Unknown

 Aku, Kamu dan Hujan

Aku mengenalnya ketika hujan
Seoarang yang hingga kini tetap ku kenang
Bukan karena paras yang indah
Tapi karena dia mampu membuat angin hujan menjadi hangat

Kami selalu bersama menciptakan cerita bersama hujan
Meninggalkan tawa disetiap tetesnya
Membelah malam dengan bahagia
Hingga kami lupa bahwa waktu dan jarak iri melihatnya

Tapi kebersamaan itu seperti pelangi
Selalu indah setelah hujan datang
Bersama warna nya yang indah
Tapi pelangi tidak pernah abadi
Pelangi pergi membawa kebersamaan kami

Dan kini yang tersisa hanya kenangan disetiap hujan
Tak pernah ada lagi tawa canda ketika hujan datang
Takan pernah ada peluk yang menghangatkan
Dan tak ada pelangi indah setelah hujan

Kamu tau, disini aku bertanya pada hujan
Apakah hujan merindukan kebersamaan kita
Apakah kamu juga menangis bersama hujan saat mereka tiba

Aku masih mengenangmu dan hujan
Bagaimana aku bisa lupa?
Jika disetiap tetesnya masih ada kenangan kita yang terjatuh
Jika dibalik hujan masih ada tawa mu yang tersimpan
Maaf aku masih merindukanmu




Unknown

Mereka semua unik, menghina tanpa tau pengorbanan apa yang terlewati sebelumnya, menghujat tanpa sadar apakah mereka mampu melakukannya?
Mungkin inilah yang mereka sebut era modern, dimana kemampuan orang pintar adalah menciptakan dan para idiot hanya mampu menikmati dan menghina haha itulah mereka

Aku bukanlah pencipta seperti mereka yang menciptakan banyak hal yang membuat sebagian dari mereka menjadi pecandu.
tapi aku hanya menciptakan zona nyamanku sendiri, tanpa harus seorang pun menyukai ciptaan ku,

tak peduli seperti apa mereka menghujat tapi inilah ciptaanku, inilah zona kenyamanan ku, suatu hari hanya wanitaku lah yang mengerti bagaimana indahnya berada dizona ini, meski tanpa seorang pun yang mengerti dan peduli terhadap kami.

Write By : Wahyu Aditya Heryadi
Unknown




 Puisi Untuk Sang Bulan

Ku ceritakan lagi kisah seorang gadis pada sang bulan
Bagaimana sunyinya bulan tanpa bintang?
Seperti apa resahnya bulan saat bintang menangis? 

Aku berimajinasi seandainya aku adalah bintang
Yang selalu datang dan pergi bersama bulan
Selalu berada disamping bulan setiap malam

Tapi aku hanyalah mentari
Yang memberi cahaya pada bulan
Meski kami tak dapat bersama

Yaaa malam ini aku memohon pada mentari itu
Biarkan aku memimpikan bulan sedikit lebih lama
Memeluknya dengan erat dalam alam ilusiku
Menciumnya walau ku sadari itu tidaklah nyata.


Puisi By : wahyu aditya heryadi
Unknown

Wahai Rinduku

Adakah kau disana sepertiku?
Memasuki alam mimpi untuk bisa saling bercinta kembali?
Dimana aku dapat tertawa bersamamu. Menggenggam tanganmu
Dan memelukmu erat.

Wahai rinduku, masihkah kau mengenaliku?
Sosok bulan yang menerangi gelap malammu?
Kau tak mengerti betapa tersiksa aku disini

Apakah kau disana sepertiku?
Menunggu sang maha agung waktu 
Mempertemukan kita kembali?

Wahai rinduku, percayalah sang waktu akan bosan
Dan membiarkan kita kembai bertemu
Dan kembali menulis cerita yang sempat terhenti

Puisi by : Wahyu Aditya Heryadi
 
Unknown





Penulis Kecil


Aku tak percaya takdir
Aku tak percaya ramalan
Aku hanya penulis kecil
Yang percaya takdirku mampu ku tulis sendiri

Aku tak percaya cinta
Aku tak percaya bahagia
Yang ku tau
kaulah cinta dan bahagia itu

Mungkin aku hina
Menanti waktu yang pergi untuk kembali
Tapi aku yakin
Aku tak pernah menuliskan kau untuk pergi

Dan kini kau tetap ada
Bersama takdir dan syairku
Meski hanya dalam ilusiku
Kau tetaplah cinta dan bahagia

Mungkin sang waktu menyembunyikanmu
Tapi tintaku akan terus mencarimu
Syairku akan tetap menunggumu
Dan takdirku tetaplah bersamamu



Puisi By : wahyu aditya heryadi